Thursday, July 5, 2012

Perdana Karya Perkasa


Ir. Soerjadi Soedarsono adalah pemilik PT. Perdana Karya Perkasa Tbk sekaligus Group Victoria yang bermarkas Samarinda dengan website  http://www.hotelvictoriagroup.com yang terdiri dari :

  • Hotel Grand Victoria di Samarinda
  • Hotel Royal Victoria di Sengata
  • Hotel Tiara di Samarinda
  • Restaurant di Samarinda

Saat ini wilayah pertambangan yang masih beroperasi adalah Dondang dengan Reserve sebesar 2.263.427 dan pihak Perdana Karya Perkasa sedang melakukan redesign di wilayah tersebut untuk optimalisasi cadangan.

Perseroan juga memiliki wilayah pertambangan di daerah Marangkayu dan Semoi dengan cadangan 1 juta Mt dan 2.6 juta mt namun masih belum beroperasi. Perseroan sedang mengincar pertambangan batubara yang memiliki cadangan sebanya 30 juta metrik ton (MT).

Menurut Valuasi saham saat ini harganya cukup menarik di kisaran 100-105. Dalam satu minggu ke depan pihak RX, DX dan AK masih akan melanjutkan penjualan hingga 36 ribu lot, total barang pembelian asing dilakukan di bulan januari 2012 sebanyak 76 ribu lot.
Sampe tulisan ini dirilis pihak asing sudah menjual sebanyak 40715 lot sehingga sisa barang asing adalah sekitar 36 ribu lot.

Fundamental :
Book Value per Share = rp 315,58 /lembar
Spec buy 100-105.
Nilai Wajar = 250 - 500


Jika Perseroan berhasil mengakuisisi pertambangan batubara dengan cadangan 30 juta MT maka tidak mustahil ini akan menjadi saham spekulasi seperti halnya GTBO yang dari harga 80 ke 5000.

Disclamer : Informasi terkait yang dikemukakan oleh Blog ini berasal dari berbagai sumber terpercaya dan aktual. Kami tidak bertanggung jawab atas tingkat akurasi dan kerugian dan penyalahgunaan informasi yang telah disajikan. Semua saran dan transaksi tidak mengikat

Saturday, March 10, 2012

Rahasia Bandarmology / Bandarmologi

Apa itu bandarmologi (ilmu perbandaran) ?
1. Bagaimana cara seorang market maker mengumpulkan barang, membentuk opini dan melakukan distribusi?
2. Bagaimana emiten melakukan kalkulasi dan manipulasi dalam laporan keuangan?
3. Bagaimana memprediksi tujuan corporate action emiten?

Contoh Kasus :
1. APIC direkomendasikan stay away sebelum Right Issue dan setelah RI justru member direkomendasi masuk di harga 102-105 dan harga kemudian naik hingga 550. (Target Jual >= 250)

2. Sementara FREN walaupun Right Issue di 100 namun justru tidak disarankan membeli karena soal "GoodWill" dan Obligasi Wajib Konversi-nya.

3. CLPI disarankan beli di 300-350 kemudian harga naik di atas 2800 karena kasus Merril Lynch dan Prem Harjani. (Target Jual >= 2000)

4. PNLF disarankan beli range 100 - 120. (Target Jual >= 150)

5. DILD disarankan beli range 180 - 185. (Target Jual >= 300)


Semua telah dikupas tuntas hanya di room Bandarmologi Top1 beserta contoh-contoh lain yg up-to-date.

Sunday, January 29, 2012

Ricky Putra Globalindo (Update News)

Sejak tahun 2010-2011, Ricky Putra Globalindo (RICY) telah menambah 5 anak perusahaan baru sebagai berikut :

1. Ricky Hansen Cemerlang (2010) anak perusahaan bergerak di perdagangan dan distribusi
2. Ricky Shunei Garmindo (2011) perusahaan patungan dengan Korsel-China
3. Ricky Global Solution (2011) perusahaan IT
4. Ricky Tanaka Shisyu (2011) perusahaan patungan dengan Jepang
5. Ricky Tekstil Indonesia (2011) perusahaan yg memproduksi benang untuk ekspor

Bersama ke-5 perusahaan ini RICY sedang membangun pabrik baru dan memperkuat posisi-nya sebagai salah satu pemain utama industri tekstil / garmen di indonesia.

Pembangunan pabrik baru ini merupakan patungan dengan perusahaan asal Korea Selatan dan Jepang yang khusus untuk menggarap pasar ekspor ke masing-masing negara. Dimana proyek patungan tersebut, perseroan memiliki saham sebesar 50%-50%.

Sementara Direktur Utama R1CY Paulus Gunawan pernah menuturkan perseroan tengah mendapatkan order baru dari Mizuno Jepang, Adidas Jepang dan S Oliver Eropa dengan nilai investasi sebesar USS 10 juta. Kemudian untuk belanja modal tahun 2011 sebesar Rp 18 miliar yang digunakan untuk membangun pabrik baru dan akan selesai rampung ditahun 2012.

Saturday, December 3, 2011

Laba Bersih Millenium Pharmacon International (SDPC) tumbuh sebesar 6354%

JAKARTA: Emiten distributor farmasi PT Millennium Pharmacon International Tbk, berniat memperluas segmen usahanya dengan memasuki sektor produksi obat-obatan.

Hal tersebut, menurut Komisaris Utama Pharmacon Sampurno, merupakan strategi untuk menciptakan sinergi usaha.

“Kalau lihat sekarang baiknya memang perusahaan distribusi yang dilengkapi dengan produksi. Idealnya rencana itu bisa teralisasi dua sampai tiga tahun lagi,” jelasnya selepas paparan publik Pharmacon, hari ini.

Sampurno menuturkan, rencana tersebut masih digodog oleh manajemen perseroan. Oleh sebab itu, dia belum bisa mengungkapkan detil mengenai lokasi dan nilai investasi rencana pembangunan pabrik tersebut.

Untuk mendanai pembangunan pabrik tersebut, perseroan kemungkinan besar akan mencari pinjaman dari bank di Malaysia atau Singapura. Besarnya bunga bank lokal, dijelaskannya, menjadi dasar pertimbangan.

“Kalau kita pinjam dari bank dalam negeri, bunganya bisa mencapai 11%. Bisa dua kali lipat bunga yang dibebankan bank Malaysia atau Singapura,” tambahnya.

Target 2012
Per Oktober tahun ini, perseroan membukukan penjualan Rp799,28 miliar, tumbuh 14,86% dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, laba bersih perseroan tumbuh 6354%, dari Rp46 juta per Oktober tahun lalu menjadi Rp2,92 miliar pada periode yang sama tahun ini.

Besarnya kenaikan laba bersih perseroan, menurut Direktur Utama Pharmacon Ishak Bin Sulaiman, disebabkan perseroan telah memulihkan kinerja keuangan selepas kehilangan satu prinsipal besar tahun lalu.

“Kami juga melakukan efisensi berbagai hal. Kenaikan laba bersih memang besar secara persentase, namun nominalnya tidak begitu besar lah,” jelasnya.

Ishak menuturkan, perseroan menargetkan penjualan tahun ini di angka Rp980 miliar. Sementara itu, untuk tahun depan penjualan ditargetkan tumbuh 13%, atau setara dengan Rp1,1 triliun. adapun, laba bersih diharapkan bisa mencapai Rp5 miliar.

Untuk mencapai target penjualan, perseroan akan membuka dua hingga tiga cabang baru di daerah Sulawesi. Investasi per cabang diperkirakan kurang dari Rp5 miliar. (05/Bsi)

Sumber : http://www.bisnis.com/articles/pharmacon-perlebar-bisnis-ke-lini-produksi

Nama Pemegang Saham adalah sebagai berikut :
Pharmaniaga Int. Corp. Sdn.Bhd 55,00% (Dimiliki Boustead Malaysia)
PT Danpac Pharma 20,07% (Dimiliki Johnny N. Wiraatmadja)
PT Indolife Pensiontama 5,87% (Group Salim)
Minarsih Soedarpo Sastrosatomo 3,26% (Istri Pendiri SMDR dan BNGA Bapak Soedarpo)
Masyarakat 15,80%

Perhitungan :

Proyeksi Laba bersih 5 milyar tahun 2012.
Jumlah Saham beredar : 728 juta

EPS = 6.87 (5 milyar / 728 juta)
BV 2011 = 130,5
BV 2012 = 137,27

Maka Proyeksi saham ini untuk tahun 2012 adalah sebesar 100 - 150 dengan PER rata-rata sebesar 15x untuk industri pharmasi. Harga saham saat tulisan ini dibuat adalah rp 75, terdiskon 43% dari Book Value tahun 2011 sebesar 130,5 / lembar

Rekomendasi : Buy on Weakness

Disclamer :
Informasi terkait yang dikemukakan oleh Blog ini berasal dari berbagai sumber terpercaya dan aktual. Kami tidak bertanggung jawab atas tingkat akurasi dan kerugian dan penyalahgunaan informasi yang telah disajikan. Semua saran dan transaksi tidak mengikat

Sunday, May 1, 2011

Antara Trading(Dagang), Spekulasi & Judi

Seorang teman bernama Harris Andoko memberikan kami sebuah tulisan yg cukup menarik berjudul : Antara Trading(Dagang), Spekulasi & Judi

Berikut petikan-nya silahkan disimak :

Orang-orang tua sering bilang Keputusan dalam hidup selalu adalah perjudian, karena tidak ada hal yang pasti, maka orang hanya bisa mengambil keputusan berdasarkan apa yang dia tahu.

Benar sekali, tidak ada yang pasti, dan semua orang memang hanya berjudi berdasarkan apa yang dia tahu. Namun satu hal yang perlu Anda sadari, dalam semua bidang dan dalam setiap transaksi, sekalipun sekelompok orang melakukan keputusan yang sama, namun mereka melakukannya berdasarkan level informasi dan pengetahuan yang berbeda-beda.

Marilah kita berandai-andai.....

Andy bekerja di sebuah perusahaan es krim, PTnya (PT Dingin Sekali) adalah perusahaan publik. Akhir-akhir ini Andy mengetahui bahwa perusahaan Andy berhasil mendapatkan sebuah order dari customer baru yang akan meningkatkan laba perusahaan Andy sebesar 200% dalam waktu 6 bulan mendatang.

Jadi.. Diam-diam Andy pergi ke broker saham Andy dan membeli saham perusahaan Andy sebanyak yang Andy bisa... (Jangan khawatir mengenai peraturan insider trading... Dunia nyata tidak seperti itu, every insider trades!)

Di tempat lain, ada seseorang yang sering jual beli saham, sebut saja dia Jason. Dia mengamati bahwa akhir-akhir ini cuaca memang agak panas. Dia bertaruh bahwa global warming itu benar, dan dia pun membeli sejumlah saham perusahaan es krim Andy.

Di tempat lain lagi, seorang Ibu muda, Susan, yang lagi kebanyakan duit, yang baru mulai belajar membeli saham dan menjadi investor, tidak sabar lagi untuk membeli saham pertamanya. Dan PT Dingin Sekali yang begitu beruntung, menjadi saham pembuka di portfolionya.

Anda lihat... Antara Andy, Jason, dan Susan, walaupun mengambil keputusan yang sama, tetapi kami melakukannya dengan alasan dan informasi yang berbeda.

Bagi Andy, saya bisa mengatakan dengan nyaris pasti Andy akan menang, karena Andy tahu customer baru Pt-nya akan mendatangkan keuntungan besar bagi perusahaan Andy. Maka Andy tidak ragu untuk menyebut diri Andy sebagai pedagang, bahkan investor.

Bagi Jason, saya akan menyebutnya spekulator. Keputusan dia memang ada dasarnya, tetapi tetap saja dia tidak benar-benar tahu apa yang sedang dia lakukan.

Bagi Susan, dia adalah penjudi! Ibu ini sedang mempertaruhkan uangnya tanpa dasar.

Kawan... Jangan mengira karena kita sedang melakukan hal yang sama dengan seseorang, lantas kita pun berada satu level dengan mereka.

Mari kita sambung lagi andai-andai tadi....

6 bulan kemudian, setelah hasil perdagangan kami dengan customer baru itu selesai dan muncul di laporan keuangan publik kami, harga saham perusahaan Andy meroket 4 kali lipat.

Jason, yang gembira atas kepandaian dia, memutuskan untuk take some profit. Dia menjual 12 saham dia, dan menyimpan 12 yang tersisa sambil berharap saham perusahaan eskrim Andy akan terus naik harganya.

Susan, yang gembira atas kepandaian dan keberuntungan dia, memutuskan bahwa 4 kali lipat hanyalah awal. Dia menyimpan semua sahamnya, dan dengan tekat bulat akan terus menunggu hingga sahamnya naik lebih tinggi lagi.

Andy, di sisi lain, mendapatkan informasi rahasia dari pemasok kami di Amerika, bahwa global ternyata tidak warming.... (hehe), bulan-bulan mendatang, yang terjadi malahan adalah global cooling... dan Andy pun menjual semua saham yang Andy miliki, ditambah shortselling atas saham perusahaan Andy.

Cuaca berubah sesuai yang Andy antisipasi, cuaca sangat dingin dan eskrim tidak laku.. Penjualan kami anjlok, dan harga saham pun menukik tajam paska pengumuman laporan keuangan kami yang terbaru.


Andy, lagi-lagi untung besar.

Jason, yang untung saat menjual 12 sahamnya dulu, sekarang rugi atas 12 saham yang tersisa.

Susan yang malang, dia bukan saja tidak pernah mendapatkan keuntungan, sekarang malah harus rugi setelah menunggu 1 tahun.


Jadi, perbedaan antara berdagang, berspekulasi, dan berjudi terletak pada alasan dan informasi yang dimiliki si pembuat keputusan. Semakin Anda mengetahui informasi mengenai apa yang Anda lakukan dan semakin besar kontrol Anda atas hasil dari sebuah kejadian, semakin Anda bisa menyebut diri Anda investor. Sebaliknya, semakin Anda tidak tahu dan tidak bisa memegang kendali atas hasil sebuah kejadian, semakin Anda memenuhi kriteria sebagai seorang penjudi.

Demikian Tulisan dari Harris Andoko yg dikirim ke kami

Thursday, March 17, 2011

Investment Tips from Mark Mobius

Message from Mark Mobius :
1. Need dramatic reform to release people’s natural entrepreneurial instincts, particularly among the increasingly informed youth.

2. Cautiously looking at companies that are oversold, well-managed and domestic/regional/ international leaders.

3. Also looking at companies that focus on core advantages and that benefit from increased government spending & economic activity.

Source : Mark Mobius

Monday, March 14, 2011

20 Rules of Trading

Banyak orang membuat keputusan berinvestasi bukan atas dasar analisa namun atas dasar : ajakan teman, broker, rumor, feeling, dll.
Ketika harga bergerak naik umumnya banyak orang begitu antusias membeli, begitu turun justru ketakutan dan panic selling.
Sering terjadi penurunan ini cukup tajam sebelum akhirnya naik lagi.
Tidak lama setelah investor pemula masuk, harga-harga saham yang telah naik tinggi biasanya mengalami koreksi. Nah, pada saat harga saham mengalami koreksi ini biasanya investor pemula didominasi emosi Fear (takut).
Panik karena takut rugi besar, investor segera menjual saham yang dibelinya saat harganya tinggi. Demikianlah investor pemula umumnya buy high sell low.

Kondisi Market sebagian besar dikendalikan oleh emosi / sentimen para pelaku pasar. Kebanyakan pemula ikut-ikutan dan akhirnya terjebak pada posisi yang keliru. Kunci utama terletak pada pengendalian emosi diri. Trading Rute dibuat dengan tujuan untuk membantu pemain saham dalam menguasai emosi sehingga keputusan anda lebih banyak didasarkan atas analisa dan pemikiran yang logis, dan tidak emosional.

20 Trading Rule ini dibuat untuk membantu anda dalam menguasai emosi dan melakukan pengendalian resiko :

Rule 1 : When in Doubt, Stay Out
Rule 2 : Never Trade or Invest Based on Hope
Rule 3 : Act on Your Own Judgement or Else Absolutely and Enriterely on the Judegement of Another
Rule 4 : Buy Weakness, Sell Strength
Rule 5 : Never over Trade
Rule 6 : After A Successful and Profitable Campaign, Take a Trading Vacation
Rule 7 : Take a Periodic Mental Inventory to See How You Are Doing
Rule 8 : Constantly Analyse Your Mistakes.
Rule 9 : Don't Jump The Gun
Rule 10: Don't Try to Call Every Market Turn
Rule 11: Never Enter into A Position without First Establishing a Risk Reward
Rule 12: Cut Losses, Let Profits Run
Rule 13: Place Numerous Small Bets on Low Risks Ideas
Rule 14: Look Down, Not Up
Rule 15: Don't Fight The Trend
Rule 16: Trade Only in Liquid Markets
Rule 17: Never Trade or Invest More Than You Can Reasonably Afford to Loose
Rule 18: Never Meet A Margin Call
Rule 19: Place a Logical Stop Loss
Rule 20: Trade WIth A Plan and Stick to It